G+

Kamis, 04 April 2013

MAKALAH TAUHIDULLOH SEBAGAI LANDASAN PANDANGAN HIDUP DUNIA ISLAM (ISLAMIC WORLDVIEW)






TAUHIDULLOH SEBAGAI LANDASAN PANDANGAN HIDUP DUNIA ISLAM (ISLAMIC WORLDVIEW)

MAKALAH



Disusun untuk memenuhi salah satu tugas individu mata kuliah Seminar Pendidikan Agama Islam yang diampu oleh Dosen Dr.H. Syahidin, M.P.d








Disusun oleh:
CEPI ALI ANWARI
1005359





JURUSAN PENDIDIKAN TEKNIK MESIN
FAKULTAS PENDIDIKAN TEKNOLOGI DAN KEJURUAN
UNIVERSITAS PENDIDIKAN INDONESIA
2013
 




TAUHIDULLOH SEBAGAI LANDASAN
PANDANGAN HIDUP DUNIA ISLAM (ISLAMIC WORLDVIEW)


BAB I
PENDAHULUAN
Sebagai risalah terakhir, ajaran Islam diwahyukan berdasarkan pondasi atau berlandaskan Tauhid. Semua konsep dan struktur ajaran Islam yang terbangun, seperti konsep ilmu, adab, dan pendidikan, konsep ibadah, konsep manusia, konsep kehidupan, konsep bernegara, dan lain sebagainya bermuara pada landasan Tauhid.
Imam Ghojali mengatakan: “sesungguhnya ketika melihat alam semesta ini, kita tidak melihatnya dari sudut pandang fisiknya, yaitu alam, langit, bumi, dan susunan atau bentuknya saja, tetapi kita melihatnya dari sudut bahwa ia adalah ciptaan Allah SWT. Ketika kita berfikir tentang Nabi, kita tidak melihatnya dari sisi sebatas manusia, orang yang mulia, berilmu dan mempunyai keutamaan, tetapi kita melihatnya dari sisi bahwa beliau adalah utusan Allah SWT. Apabila kita menyimak sabda-sabda beliau, kita tidak berfikir dari sisi bahwa itu sekedar perkataan-perkataan, perbincangan, pidato, dan pengajaran tentang sebuah pemahaman, tetapi kita melihatnya dari sisi bahwa itu adalah ajaran atau pengenalan-pengenalan (ta’rifat) dari Allah SWT melalui lisan beliau. Kita tidak melihat (tentang apa saja) kecuali bermuara pada Allah SWT. Tidak ada yang dicari, dituntut dan dituju kecuali hanya kepada Allah SWT semata. Dan semua pembahasan ilmu ini (ilmu tauhid) pada akhirnya difokuskan untuk bermuara pada Allah SWT”.[1]

Dengan demikian, ilmu tauhid mengarahkan pola pikir dan pandangan hidup (worldview) kita dalam segala aktifitas kehidupan senantiasa bermuara dan berlandaskan pada tauhidullah, sehingga senantiasa selaras dengan tujuan penciptaan kita sebagai hamba (‘abid) dan pemegang amanah (khalifah) secara berimbang di muka bumi ini.



BAB II
LANDASAN TEORI
1. Definisi Tauhidullah
            Perlu kita ketahui terlebih dahulu arti  tauhid itu sendiri adalah tauhid berasal dari kata wahhada-yuwahhidu-tawhidan, yang arti harfiyahnya menyatukan, meng-Esakan, atau mengakui bahwa sesuatu itu satu.[2] Adapun yang dimaksud dengan makna harfiyah tersebut adalah meng-Esakan atau mengakui dan menyakini akan ke-Esaan Allah SWT. Lawan dari tauhid adalah syirik, yaitu menyekutukan atau membuat tandingan kepada Allah SWT. Dengan demikian tauhid adalah mengakui dan menyakini ke-Esaan Allah SWT, dengan membersihkan keyakinan dan pengakuan tersebut dari segala kemusyrikan. Maka bertauhid kepada Allah (tauhidullah) adalah hanya mengakui hukum Allah SWT yang memiliki kebenaran mutlak, dan hanya peraturan Allah SWT yang mengikat manusia secara mutlak.
            Dengan demikian, tauhid adalah esensi aqidah dan iman dalam Islam. Tauhid merupakan landasan utama dan pertama keyakinan Islam dan implementasi ajaran-ajarannya. Tanpa tauhid tidak ada iman, tidak ada aqidah dan tidak ada Islam dalam arti yang sebenarnya.
            Dari kalimat tauhid tersebut mengandung dua prinsip yang harus dipegang seorang Muslim, prinsip tersebut adalah Al-Nafyu artinya peniadaan, merupakan penegasan tentang tidak adanya sesembahan yang haq selain Allah SWT. Selanjutnya prinsip Al-Isbat yang artinya penetapan, yaitu menegaskan bahwa hanya Allah-lah satu-satunya sesembahan yang haq. Dalam firman Allah SWT:
Artinya: “Tidak ada paksaan untuk (memasuki) agama (Islam); Sesungguhnya Telah jelas jalan yang benar daripada jalan yang sesat. Karena itu barangsiapa yang ingkar kepada Thaghut[3] dan beriman kepada Allah, Maka Sesungguhnya ia Telah berpegang kepada buhul tali yang amat Kuat yang tidak akan putus. dan Allah Maha mendengar lagi Maha Mengetahui". (Qs. Al-Baqoroh: 256)

            Dalam pengucapan kalimat tauhid tersebut tidak sembarangan dalam pengucapannya, harus dengan syarat-syarat. Tanpa syarat-syarat tersebut maka kalimat tauhid yang diucapakan tidak akan berarti. Syarat-syarat tersebut adalah[4]
1). Al-‘Ilm, lawan dari al-jahl (kebodohan). Artinya memahami makna dan maksud kalimat tauhid. Dalam firman Allah SWT:
Artinya: “............akan tetapi (orang yang dapat memberi syafa'at ialah) orang yang mengakui yang hak (tauhid) dan mereka meyakini(nya)”. (Qs. Al-Zukhruf: 86).

Dalam konsep ilmu, agama Islam sangat memposisikan ilmu dalam keadaan istimewa. Allah SWT berfirman dalam Al-Qur’an banyak menerangkan kaum Muslimin supaya memilki ilmu. Keistimewaan tersebut tampak sekali dari banyaknya ayat-ayat Al-Qur’an dan Al-Hadits yang memerintahkan supaya mendalami ilmu. Allah berfirman;

Artinya: “Katakanlah: "Adakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?" Sesungguhnya orang yang berakallah yang dapat menerima pelajaran”. (Qs. Az-Zumar: 9).

Allah SWT juga berfirman;

Artinya: “.........Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. dan Allah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan”. (Qs. Al-Mujadalah: 11)[5]
Allah SWT dalam firman lainnya;

Artinya: “...............Hendaklah kamu menjadi orang-orang rabbani[6], Karena kamu selalu mengajarkan Al Kitab dan disebabkan kamu tetap mempelajarinya”. (Qs. Ali-Imran: 79).

Dalam firman Allah SWT yang lain;

Artinya: “Maka Ketahuilah, bahwa Sesungguhnya tidak ada Ilah (sesembahan, Tuhan) selain Allah dan mohonlah ampunan bagi dosamu dan bagi (dosa) orang-orang mukmin, laki-laki dan perempuan. dan Allah mengetahui tempat kamu berusaha dan tempat kamu tinggal”. (Qs. Muhammad: 19).

Dengan ayat tersebut, Imam Bukhari memasukkannya ke dalam bab ilmu sebelum amal, Ibn Al-Munir menyatakan, yang artinya; “maksudnya ilmu adalah syarat untuk benarnya perkataan dan perbuatan. Keduanya benar hanya dengan ilmu. Maka ilmu adalah lebih utamakan dari keduanya karena ilmu adalah pembenar bagi niat yang benar untuk amal. Imam Bukhari menginginkan tentang itu sehingga tidak tergambar dalam benak dari perkataan mereka, bahwa; “ilmu tidak bermanfaat kecuali dengan amal” merendahkan urusan ilmu dan meremehkan dalam pencariannya.
Senada dengan Ibn Al-Munir, Murtadha Al-Zabidi, manyatakan; “Sesungguhnya adalah fardhu atas manusia supaya beriman. Sebabnya, iman itu hakikatnya terdiri dari rangkuman ilmu (yang tertentu) dan amal (yang tertentu); justru tidaklah tergambar akan wujud iman melainkan dengan ilmu dan amal. Kemudian dari (wajibnya meyakini rukun iman) itu, mengamalkan cara hidup (syari’ah) Islam adalah kewajiban atas setiap Muslim, dan tidak mungkin menunaikannya melainkan sesudah mencapainya (ilmu) makrifat dan pengetahuan mengenai syari’ah yang tersebut. Allah mengeluarkan para hambaNya dari perut ibu mereka dengat sifat tidak mengetahui apa-apa[7]. Oleh sebab itu, menuntut ilmu adalah fardhu atas tiap-tiap Muslim. Tidak mengapdikan diri kepada Allah-sedangkan ibadah itu haq Allah atas sekalian hambaNya-kecuali dengan ilmu, dan tidak mungkin mencapai ilmu melainkan dengan menuntutnya (walau dari mana sekalipun)?[8] Selain dalam Al-Qur’an, perintah menuntut ilmu juga terdapat dalam banyak hadits. Rasulullah SAW bahkan menyatakan orang yang mempelajari ilmu, maka kedudukannya sama seperti seorang yang sedang berjihad di medan perjuangan.
Mengikuti apa yang diajarkan dalam Al-Qur’an dan Hadits, Ali bin Abi talib ra, menyimpulkan, bahwa ilmu itu lebih baik daripada harta.
Ali bin Abi Thalib berkata; “Ilmu lebih baik daripada harta, oleh karena itu kamu yang menjaganya, sedangkan ilmu itu adalah yang menjagamu. Harta akan lenyap jika dibelanjakan, sementara ilmu akan berkembang jika diinfakkan (diajarkan). Ilmu adalah penguasa, sedang harta adalah yang dikuasai. Telah mati penyimpan harta padahal mereka masih hidup, sementara Ulama’ tetap hidup sepanjang masa. Jasa-jasa mereka hilang, tapi pengaruh mereka tetap ada atau membekas di dalam hati”[9].

2). Al-Yaqin, lawan dari al-syak (keraguan). Seorang yang mengikrarkan tauhid harus meyakini kandungan kalimat tersebut.
Artinya: “Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu hanyalah orang-orang yang percaya (beriman) kepada Allah dan Rasul-Nya, Kemudian mereka tidak ragu-ragu dan mereka berjuang (berjihad) dengan harta dan jiwa mereka pada jalan Allah. mereka Itulah orang-orang yang benar. (Qs. Al-Hujurot: 15).

3). Al-Qabul (menerima), lawan dari al-rodd (penolakan). Yaitu menerima kandungan konsekuensi dari syahadat tauhid yang diucapkan, hanya menyembah Allah SWT semata.
 
Artinya: “Sesungguhnya mereka dahulu apabila dikatakan kepada mereka: "Laa ilaaha illallah" (Tiada Tuhan yang berhak disembah melainkan Allah) mereka menyombongkan diri. Dan mereka berkata: "Apakah Sesungguhnya kami harus meninggalkan sembahan-sembahan kami Karena seorang penyair gila?". (Qs. Ash-Shoffat: 35-36).

4). Al-Inqiyad (patuh), lawan dari al-tark (meninggalkan). Merupakan tunduk dan patuh kepada makna dan kandungan la ilaha illa Allah, yang berarti memusat ketundukan dan kepatuhan hanya kepada Allah SWT.
Artinya: “Dan barangsiapa yang menyerahkan dirinya kepada Allah, sedang dia orang yang berbuat kebaikan, Maka Sesungguhnya ia Telah berpegang kepada buhul tali yang kokoh. dan Hanya kepada Allah-lah kesudahan segala urusan”. (Qs. Luqman: 22).

5). Al-Ikhlas (bersih), lawan dari syirk dalam amal. Yaitu membersihkan amal dari segala debu-debu syirk, dengan jalan membersihkan niat semata lillah, bebas dari sum’ah dan riya’ atau sebab-sebab keduniaan lainnya. Rasulullah bersabda, yang artinya: “Sesungguhnya Allah mengharamkan kepada neraka (untuk membakar) orang-orang yang mengucapkan “la ilaha illa Allah”, karena semata mengharap ridho Allah”. (HR. Bukhori-Muslim).
           
6). Al-Shidqu (jujur), lawan dari al-kidzbu (dusta). Yaitu orang yang mengucapkan kalimat tauhid dan hatinya membenarkannya. Manakala lisannya mengucapkan, tetapi hatinya mendustakan, maka ia adalah munafik dan pendusta agama.
Artinya: “Di antara manusia ada yang mengatakan: "Kami beriman kepada Allah dan hari kemudian[10]," pada hal mereka itu Sesungguhnya bukan orang-orang yang beriman. Mereka hendak menipu Allah dan orang-orang yang beriman, padahal mereka Hanya menipu dirinya sendiri sedang mereka tidak sadar. Dalam hati mereka ada penyakit[11], lalu ditambah Allah penyakitnya; dan bagi mereka siksa yang pedih, disebabkan mereka berdusta”. (Qs. Al-Baqoroh: 8-10)

7). Mahabbah (kecintaan), lawan dari baghdla’ (kebencian). Yaitu cinta kepada mengucapkan kalimat tersebut dan mencintai isi kandungannya, serta mencintai orang-orang yang mengamalkan dan konsekwensi terdapat kandungan kalimat tauhid.

2. Makna Tauhidullah Sebagai Landasan Pandangan Dunia Islam (Islamic        Wolrdview)
            Diantara syarat diterimanya amal adalah iman dan Islam, sedangkan pintu masuk Islam adalah syahadatain, dan syahadatain adalah tauhid itu sendiri sehingga dapat kita katakan bahwa tauhidullah itu amat penting bagi semua manusia. Jika tauhidullah menjadi pandangan hidup kaum muslimin, maka pada diri seorang muslim akan lahir sikap[12]:
a). Ibarat seperti orang buta di dunia ini, ia tidak tahu mengapa ia diciptakan, atau apa hikmah diciptakannya di muka bumi ini. Dalam firman Allah SWT:
Artinya: “Maka apakah orang yang berjalan terjungkal di atas mukanya itu lebih banyak mendapatkan petunjuk ataukah orang yang berjalan tegap di atas jalan yang lurus?”. (Qs. Al-Mulk: 22).

b). Menjadikan hati manusia bersatu karena iman, sehingga mereka saling mencintai karena Allah SWT. Dalam firmannya:
Artinya: “Orang-orang beriman itu Sesungguhnya bersaudara. sebab itu damaikanlah (perbaikilah hubungan) antara kedua saudaramu itu dan takutlah terhadap Allah, supaya kamu mendapat rahmat”. (Qs. Al-Hujuraat: 10).
                                                 
Masyarakat beriman adalah masyarakat yang saling bekerja sama dalam kebaikan dan takwa, dimana tiap anggota masyarakatnya saling melarang dari perbuatan dosa dan permusuhan, semuanya berusaha untuk sukses menggapai ridha Allah. Individunya pun merasa takut untuk berbuat zhalim, karena ia takut kepada Allah dan takut terhadap hari dimana ia harus mempertanggungjawabkan semua amalnya. Ketika kaum muslimin berpegang teguh dengan tauhid mereka, maka mereka akan menjadi orang-orang terbaik, sebagaimana firman Allah Ta’ala:
Artinya: “Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma'ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah....”. (Qs. Ali-Imran: 110).

c). Jika semangat tauhidullah dan iman telah menyebar di masyarakat, maka pastilah akan membuahkan amal shalih yang diridhai Allah sehingga membuka berbagai pintu kebaikan dan mendatangkan pertolongan Allah. Begitulah dulu kaum muslimin, sebelumnya mereka adalah orang-orang lemah dan miskin, kemudian mereka beriman dan beramal shalih sehingga Allah membuka pintu-pintu keagungan dunia kepada mereka. Dan Allah cukupkan bagi mereka karunia-Nya.



Berangkat dari kesemuanya itu, maka seorang Muslim yang memiliki pandangan hidup Islam, dan yakin akan kehidupan akhirat, dia akan tenang setiap kali menerima ujian dari Allah SWT. Dia yakin, bahwa hidup didunia adalah sementara dan semuanya akan dipertagungjawabkan kepada Allah SWT di akhirat nanti. Seorang Muslimah yang yakin akan kehidupan akhirat, dia akan memiliki perspektif akhirat.
Dan seorang laki-laki yang memiliki perspektif akhirat, dia tidak mungkin akan berlaku semena-mena terhadap istri dan keluarganya, karena semua itu adalah amanah yang akan dipertagungjawabkan di akhirat kelak. Maka semakin besar amanah dan kenikmatan yang diterimanya, semakin besar pula pertagungjawabannya kepada Allah SWT.
Seorang Muslim yang memiliki pandangan dunia Islam yang berlandaskan Tauhid, maka dia akan yakin bahwa hanya Islamlah agama yang diterima Allah SWT. Maka dalam firmannya disebutkan:
Artinya: “Maka apakah mereka mencari agama yang lain dari agama Allah, padahal kepada-Nya-lah menyerahkan diri segala apa yang di langit dan di bumi, baik dengan suka maupun terpaksa dan Hanya kepada Allahlah mereka dikembalikan".  (Qs. Ali ‘Imron: 83)

Dari konteks ayat tersebut, hanya Islamlah agama yang mengajarkan kalimat Tauhid (kalimatun sawa’), dan merupakan kelanjutan dari semua agama yang dibawa oleh para Nabi. Islam adalah nama satu agama, dan penjelasan tentang cara ibadah yang benar kepada Allah SWT. Dalam pandangan hidup Islam, manusia tidak mungkin akan mengenal Allah SWT, kecuali melalui keimanan kepada utusanNya yang terakhir, yaitu Nabi Muhammad SAW. Hanya melalui utusanNya itulah, Allah SWT menjelaskan, siapa diriNya, dan bagaimana manusia harus beribadah kepadaNya, dan bagaimana manusia harus menjalani hidup di dunia. Maka, untuk masuk Islam, seorang harus meyakini dan mengikrarkan dengan mengucapkan: “Laa Ilaaha Illallah Wa Anna Muhammadar Rasulallah”, (Tidak ada Tuhan selain Allah dan Muhammad adalah utusan Allah).
            Karena itu, dalam perspektif pandangan dunia Islam tidaklah dapat diterima pandangan orang Pluralis[13] yang menyatakan bahwa semua agama pada dasarnya memiliki intisari yang sama, yaitu sama-sama sebagai jalan yang sah untuk menuju Tuhan yang satu, meskipun masing-masing memiliki cara ibadah dan penyebutan nama Tuhan yang berbeda-beda. Jelas pendapat semacam itu adalah batil. Jika semua jalan adalah benar, maka tidak perlu Allah SWT memerintahkan kita kaum Muslim untuk berdoa “Ihdinash Shirathal Mustaqim” (Tunjukkanlah kami jalan yang lurus). Jelas dalam surat Al-Fatihah disebutkan, ada jalan yang lurus dan ada jalan yang tidak lurus, yaitu jalannya orang-orang yang dimurkai Allah SWT dan jalannya orang-orang yang sesat[14]. Dengan demikian, Tauhid tidaklah mungkin dicapai melalui jalan pengalaman keagamaan semata, tanpa merujuk pada Al-Qur’an sebagai wahyu yang diturunkan oleh Allah SWT. Inilah cara pandang Islam dalam bertauhid.
            Dan bisa kita lihat umat Islam sekarang ini dijajah oleh pemikiran Barat yang sekular dan liberal, maka konsep “pandangan dunia Islam yang berlandaskan tauhidullah” harus dipegang erat-erat. Jangan sampai terjebak dan terperosok dalam pemikiran-pemikiran Barat tersebut yang dapat merusak keimanan dan ketaqwaan terhadap Allah SWT.
            Memang, setiap kita pasti akan diuji oleh Allah SWT terhadap keimanan kita. Iman tidak akan dibiarkan begitu saja, tanpa ada ujian[15]. Maka setiap zaman dan setiap waktu akan selalu ada ujian iman. Ada yang lulus, ada juga yang gagal dalam ujian iman tersebut. Karena itulah, setiap kita diwajibkan agar selalu menuntut ilmu, setiap waktu, agar dapat mengetahui mana yang salah dan mana yang benar, mana yang Tauhid dan mana yang syirik.
            Dalam kitab Sullamut Tawfriq karya Syaikh Abdullah bin Husain bin Thohir bin Muhammad bin Hasim, yang biasa dikaji di madrasah Ibtidaiyah dan Pondok-pondok pesantren, disebutkan, bahwa kewajiban setiap Muslim untuk menjaga Islamnya dari hal-hal yang membatalkannya, yaitu murtad (riddah). Dijelaskan juga dalam kitab tersebut, bahwa murtad itu ada tiga jenis; yaitu, murtad dengan I’tiqod, murtad dengan lisan, murtad dengan perbuatan. Contoh murtad dari segi I’tiqod; ragu-ragu terhadap wujud Allah SWT, atau ragu-ragu terhadap Nabi Muhammad SAW, atau ragu-ragu terhadap Al-Qur’an, atau ragu-ragu terhadap hari Akhir, Sorga, Neraka, Pahala, Siksa, dan sejenisnya.[16]
            Dalam pandangan Islam, tentang “murtad” (batalnya keimanan) seseorang, bukanlah hal yang kecil. Jika iman batal, maka hilanglah pondasi keislamannya. Banyak ayat Al-Qur’an yang menyebutkan bahaya dan resiko pemurtadan bagi seorang Muslim. Diantaranya firman Allah SWT:
"Artinya: “Mereka bertanya kepadamu tentang berperang pada bulan Haram. Katakanlah: "Berperang dalam bulan itu adalah dosa besar; tetapi menghalangi (manusia) dari jalan Allah, kafir kepada Allah, (menghalangi masuk) Masjidilharam dan mengusir penduduknya dari sekitarnya, lebih besar (dosanya) di sisi Allah[17]. dan berbuat fitnah[18] lebih besar (dosanya) daripada membunuh. mereka tidak henti-hentinya memerangi kamu sampai mereka (dapat) mengembalikan kamu dari agamamu (kepada kekafiran), seandainya mereka sanggup. barangsiapa yang murtad di antara kamu dari agamanya, lalu dia mati dalam kekafiran, Maka mereka Itulah yang sia-sia amalannya di dunia dan di akhirat, dan mereka Itulah penghuni neraka, mereka kekal di dalamnya”. (Al-Baqoroh: 217)
“Dan orang-orang kafir amal-amal mereka adalah laksana fatamorgana di tanah yang datar, yang disangka air oleh orang-orang yang dahaga, tetapi bila didatanginya air itu dia tidak mendapatinya sesuatu apapun. dan didapatinya (ketetapan) Allah disisinya, lalu Allah memberikan kepadanya perhitungan amal-amal dengan cukup dan Allah adalah sangat cepat perhitungan-Nya".[19] (An-Nuur: 39)



BAB III

PENUTUP
            Saat ini kalau kita mau mencermati, di era globalisasi sekarang nilai-nilai liberal maupun sekuler sudah mengikis dan menghancurkan pemikiran Islam dan keimanan kaum Muslimin. Maka di tengah zaman seperti ini, mau tidak mau, kita seorang Muslim wajib membentengi diri kita dengan keilmuan Islam yang benar dan memahami pemikiran batil yang dapat merusak keimanan. Untuk itu, setiap Muslim wajib memiliki pandangan hidup Islam yang berlandaskan Tauhidullah. Sebab, dalam pandangan dunia Islam, dikaji secara komprehensif dan komparatif berbagai konsep-konsep pokok dalam Islam, seperti; konsep Tuhan, konsep manusia, konsep alam, konsep wahyu, konsep kenabian, konsep ilmu, dan lain-lain. Dengan itu, insyaAllah kita kaum Muslim dapat menikmati dan merasakan hidup penuh dengan kebahagiaan dunia maupun akhirat. Aamiin Aamiin Ya Rabbal ‘Alamin.







DAFTAR PUSTAKA


Al-Albani, Nashiruddin. 2005. Aqidah Thahawiyah. Jogjakarta: Media Hidayah

Departemen Agama Proyek Pengadaan Kitab Suci Al-Qur’an. 1979. Al-Qur’an dan terjemahnya. Jakarta: Yayasan Penyelenggara Penterjemah Al-Qur’an.
Takariawan, Cahyadi, Wahid Ahmadi, Abdullah Unono. 2003. Syahadat dan Makrifatullah. Solo: Era Intermedia
Yayasan Al-Sofwah. 2007. Mushaf dan Terjemahannya. Solo: PT Tiga Serangkai Pustaka Mandiri.
Situs: www.Google.com
https://groups.google.com/forum/#!msg/muslim-kl/5AuxZgUltaE/BihiAsYLo7gJ. (diakses pada tanggal 4 April 2013).
Sejarah,Akar.2011.Pengertian Worldview.html
(tersedia:online.http://akarsejarah.wordpress.com/2011/03/29/islamic-worldview)

http://hasanassaggaf.wordpress.com/2010/05/31/1-ilmu-tauhid.html

http://orgawam.wordpress.com/2012/11/07/definisi-tauhid-dan-ilmu-tauhid.html

http://poligami.arabblogs.com/hadits.htm

http://www.mutiarahadits.com/sunnah/tauhid/

http://remajaislam-ikhlas.blogspot.com/2011/04/tauhidulloh-mengesakan-alloh-swt.html







[1] Imam Al-Ghazali, Al-Iqtishad Fil I’tiqad, (Dar al-Kutup al-‘Ilmiyah, cetakan 1, Beirut: 1988. Hal: 5. Dikutip dari makalah Henri Shalahuddin, M.A. tentang Kajian Teologi Islam: Mengkaji Klaim Rasionalisme Mu’tazilah. Hal: 1
[2] Lihat kamus. Kamus Arab-Indonesia. Hal: 494.
[3] Thaghut ialah syaitan dan apa saja yang disembah selain dari Allah s.w.t. Lihat Al-Qur’an dan terjemahannya. Hal: 63..
[4] Lihat Buku. Studi Islam 1. Hal: 24-29.
[5] Lihat juga ayat-ayat lain sepert; An-Nisa’: 83 dan 113, Toha: 114, Al-Kahfi: 65-66, Ali-Imran: 18, Ar-Ra’d: 19, Asy-Syura: 52, Yunus: 68, Al-Madinah: 4. Dikutip dari makalah Adnin Armas tentang Konsep Ilmu dalam Islam. Hal: 1.
[6] Rabbani ialah orang yang Sempurna ilmu dan takwanya kepada Allah s.w.t.
[7] (Qs. An-Nahl: 78).
[8] Mohd. Sani bin Badron, “Ilmu Fard ‘Ayn dan Fard Kifayah sebagai Landasan Epistimologi Peradaban, makalah yang dibentangkan di UNISSULA, Semarang, selanjutnya diringkas Ilmu Fard Ayn dan Fard Kifayah. Dikutip dari makalah Adnin Armas tentang Konsep Ilmu dalam Islam. Hal: 2.
[9] Syaik Abdul Qadir Abdul Aziz, keutamaan Ilmu. Hal: 77. Dikutip dari makalah Adnin Armas tentang Konsep Ilmu dalam Islam. Hal: 1.
[10] Hari kemudian ialah: mulai dari waktu mahluk dikumpulkan di padang mahsyar sampai waktu yang tak ada batasnya. Lihat Al-Qur’an dan terjemahannya. Hal: 8.
[11] yakni keyakinan mereka terdahap kebenaran nabi Muhammad s.a.w. lemah. Kelemahan keyakinan itu, menimbulkan kedengkian, iri-hati dan dendam terhadap nabi s.a.w., agama dan orang-orang Islam. Lihat Al-Qur’an dan terjemahannya. Hal: 10.
[12] Dikutip dari buku Syahadat dan Makrifatullah. Hal: 64.
[13] Suatu golongan atau kaum yang berpandangan semua agama itu sama. Dikutip dari makalah Adian Husaini. M.A. tentang Untuk Apa Belajar Islamic Worldview. Hal: 2.
[14] Dikutip dari Makalah Adian Husaini, M.A. tentang Konsep Tuhan Dalam Islam. Hal: 14.
[15] Sebagaimana firmannya:
Artinya: “Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: "Kami Telah beriman", sedang mereka tidak diuji lagi?. Dan Sesungguhnya kami Telah menguji orang-orang yang sebelum mereka, Maka Sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar dan Sesungguhnya dia mengetahui orang-orang yang dusta”. (Qs. Al-Ankabuut: 2-3). Lihat Al-Qur’an dan terjemahannya. Hal: 628.
[16] Dikutip dari makalah Adian Husaini, M.A. tentang Konsep Islam Sebagai Agama Wahyu. Hal: 3.
[17] jika kita ikuti pendapat Ar Razy, Maka terjemah ayat di atas sebagai berikut: Katakanlah: "Berperang dalam bulan itu adalah dosa besar, dan (adalah berarti) menghalangi (manusia) dari jalan Allah, kafir kepada Allah dan (menghalangi manusia dari) Masjidilharam. tetapi mengusir penduduknya dari Masjidilharam (Mekah) lebih besar lagi (dosanya) di sisi Allah." pendapat Ar Razy Ini mungkin berdasarkan pertimbangan, bahwa mengusir nabi dan sahabat-sahabatnya dari Masjidilharam sama dengan menumpas agama Islam. Lihat Al-Qur’an dan terjemahannya. Hal: 52.
[18] fitnah di sini berarti penganiayaan dan segala perbuatan yang dimaksudkan untuk menindas Islam dan muslimin. Lihat Al-Qur’an dan terjemahannya. Hal: 52.
[19] orang-orang kafir, Karena amal-amal mereka tidak didasarkan atas iman, tidaklah mendapatkan balasan dari Tuhan di akhirat walaupun di dunia mereka mengira akan mendapatkan balasan atas amalan mereka itu. Lihat Al-Qur’an dan terjemahannya. Hal: 551.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Linking